Kamis, 20 September 2012

Arti Sahabat

Sudah lama saya tidak menulis di blog. Entahlah tepatnya berapa hari atau minggu. Yang pasti sudah lama sekali.

Terus terang ada rasa rindu untuk meluangkan sedikit waktu yang ada untuk mencorat coret diblog. Tapi sepertinya hal itu sulit terealisasi, terutama saat ini saya sedang merampungkan 2 buah buku. Satu Novel dan satu lagi kumpulan catatan.

Tapi syukurlah, Tuhan masih berkenan membeeri sedikit waktu untuk menulis di blog ini. Dan kesempatan saat ini saya coba tuliskan tentang persahabatan.

"Sahabat adalah orang yang pertama datang saat seluruh dunia pergi..."

Saya memiliki tetangga yang berasal dari Sidoarjo. ia adalah salah satu keluarga yang terdampak Lumpur Lapindo. karena kejadian tersebut, terpaksa ia dan keluarganya berpindah dari satu kota ke kota lain. ia pun terpisah dari anak sulungnya yang mengungsi kerumah saudaranya. sejak kejadian itu, ia kehilangan pekerjaannya karena perusahaan tempatnya bekerja telah tenggelam didasar lumpur. tak terbayangkan beban yang ia rasakan.



setahun lalu ia datang dan mengontrak di depan rumah saya. anak bungsunya seusia mas Danniel, anak saya. namanya Lucky.



awalnya, anak itu minder dan hanya berkutat di dalam rumah. entah karena dilarang bermain oleh orang tuanya atau karena alasan yang lain, saya tak tahu. tapi sepertinya alasan yang pertama lebih masuk akal untuk diterimakan secara logika.



saya tahu benar bagaimana rasanya, karena saya pernah berada di posisinya. saat itu saya adalah penjual koran dan hidup dengan uang 2000 rupiah hasil menjual koran untuk hidup seharian. sangat minim, mengingat saat itu saya hidup di Malang, sebuah kota besar. rasa malu selalu menyelimuti ketika bertemu dengan tetangga. kurang percaya diri. jadi saya tahu benar apa yang tetangga saya itu rasakan.



kemudian saya bisiki anak saya, mas Danniel, untuk mengajak Lucky bermain bersama.



ternyata dia anak yang periang. cukup pintar juga.



sejak itu mereka berdua menjadi sahabat. kemana-mana selalu bertiga. mas Danniel, Lucky dan anak terkecil saya, Nonik. tak jarang Lucky bermain sampai sore, bahkan makan pun disuapin bertiga oleh Mbak Min, pengasuh anak saya.



walaupun bersekolah di tempat berbeda, namun kurikulum SDIT sepertinya sama disemua sekolah. hal tersebut menjadikan mas Danniel dan Lucky selalu belajar bersama. senang rasanya ketika mereka hafalan ayat-ayat Al-Qur'an bersama-sama. saya kadang tak tahu Surah apa yang sedang mereka ucapkan diluar kepala tersebut. tapi mendengar mereka mengaji, itu sudah cukup menentramkan hati saya. minimal mereka lebih hebat daripada saya. mereka sudah bisa mengaji, sementara saya (saat seusia mereka) belum bisa.



saya senang dengan anak-anak. setiap kali bermain bersama mereka, seolah saya dibawa kedunia mereka yang penuh warna dan ceria. saya seperti terlupa dan terlena tiap kali saya bermain dengan anak-anak. bahkan kadang saya ingin kembali ke masa kanak-kanak saya yang begitu ceria, tanpa beban dan meninggalkan dunia nyata yang lusuh dan kumal oleh kepalsuan dan sandiwara ini.



yang ada dipikiran anak-anak hanyalah, bermain...bermain... dan bermain.



no politics, just game..



tak jarang saya abaikan semua gadget yang terhubung dengan dunia luar ketika saya bersama anak-anak. bagi saya merekalah Jenderal-Jenderal saya. pimpinan saya. urusan yang lain silahkan menunggu ketika saya sedang dengan anak-anak saya. kemanapun saya pergi, anak-anak harus berada bersama saya sekalipun dirumah sudah ada pengasuh yang merawat mereka dari bangun tidur sampai kembali terlelap.



hari demi hari berlalu. tak terasa setahun berlalu. masa kontrakan Lucky bersama orang tuanya dirumah kecil itu telah berakhir dan tak dapat diperpanjang. dan itu berarti kebersamaan antara mas Danniel dan Lucky harus berakhir pula. ia dan orang tuanya pindah ke Leces. mengontrak di perumahan dikawasan pabrik kertas itu. entah sampai kapan mereka akan hidup nomaden seperti itu.



sayangnya negeri ini memiliki radar yang tak berfungsi dengan baik ketika bertemu dengan kenestapaan rakyat seperti itu. terbukti dengan makin mengangkangnya orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas Lapindo karena kecerobohannya. meletakkan korban-korbannya diantara telapak kakinya yang penuh dengan darah-darah kekejian. bahkan dengan pongah orang itu mencalonkan diri sebafai Presiden periode mendatang dengan mengendarai lokomotif warisan Orde Baru yang bengis dan KORUP. sebagai upaya cuci tangan, ia sebut bencana Lumpur Lapindo dengan sebutan LUSI atau Lumpur Sidoarjo, seolah ingin menghilangkan idiom LAPINDO BRANTAS (perusahaan miliknya) sebagai sumber malapetaka bagi ribuan kepala keluarga yang nasibnya kian tak jelas seperti keluarga Lucky.



tepat tahun baru imlek kemarin mereka pindahan.



"Lucky pindah, Yah..." tanya mas Danniel kemarin sore pada saya.



"iya, le.." jawabku



"kapan-kapan kita jenguk ya, Yah.." pinta anakku.



aku hanya tersenyum menjawab pinta anakku itu.



saya berharap persahabatan kedua anak saya dengan Lucky tak berakhir meskipun mereka tak lagi bersua. saya percaya, mereka adalah generasi-generasi penerus yang cemerlang. yang pasti saya akan sangat merindukan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang biasa mereka ucapkan. mereka hafal diluar kepala. begitu merdu. karena sekarang hanya suara lantunan ayat suci dari bibir anak-anak saya saja yang terdengar merdu, hanya saja tanpa suara Lucky..



sekian







Rabu, 27 Juni 2012

Palestinaku, Palestinamu juga Tuan....!



Pagi ini saya sempatkan menonton berita. dan tak dinyana, beritanya tentang serangan brutal Israel ke Palestina. tepatnya di jalur Gaza. Menggugah hati saya untuk mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini saya pendam kala menyaksikan kejahatan ini.




Dalam berbagai persyarikatan persekutuan yang mengatasnamakan kemanusiaan, jarang sekali mengemuka nama bangsa Palestina. Bangsa tersebut seolah tenggelam dalam lautan kebisingan dunia. Tersisih dari teropong media. Kalaupun bangsa itu disebut dalam sebuah berita, bukan lain dan tak bukan hanyalah nestapa. Seraut wajah bocah mungil menggenggam kerikil melawan tank dan bayonet dari kebengisan tentara Israel yang semenjak 60 tahun silam menduduki tanah moyang mereka tanpa alasan. Mereka terusir dari rumah mereka dan melihat kepongahan bangsa biadab itu memereteli kekayaan alam Palestina dan merampas tanah, rumah serta ladang mereka. Kemerdekaan bangsa Palestina direnggut begitu saja.




Sebelumnya saya hendak mengajak tuan-tuan sekalian berlabuh sejenak untuk bertamasya ke neraka bernama Palestina itu.




Sebelum perang dunia II meledak pada medio 1940-1948, Palestina adalah sebuah negeri subur, makmur, gemah ripah loh jinawi. Di dalamnya terdapat 3 agama yang hidup saling mengasihi dan menghormati. Islam, Kristen dan Yahudi. Kenapa 3 agama itu ada disana? Wajar. Karena disana terdapat 3 pusat peradaban dari ketiga agama tersebut. Al Aqsa, Yerusalem dan Tembok ratapan. Ketiganya adalah agama samawi. Punya rasul, nabi dan kitab suci. Muhammad, Isa dan Musa. Bertiga, umat tersebut memegang teguh ajaran tentang cinta kasih yang tertulis dalam Al Qur’an, Injil dan Taurat (yang dalam hal ini diwakilkan dalam ten commandements). Tidak hanya itu. Kekayaan alam Palestina adalah salah satu yang terhebat di dunia. Palestina adalah negeri penghasil zaitun terbaik yang pernah ada. Kebun-kebun mawarnya mensuplai eropa dan dunia untuk kebutuhan asmara dan keperluan sehari-hari sebagai penghias rumah mereka. Sempurna.




Tapi malapetaka itu datang kala Jerman dengan Nazi/ Hittler memburu bangsa Yahudi di semenanjung Eropa dan seluruh dataran biru itu. Entah apa maksudnya melakukan itu. Menurut data PBB sebanyak 6 juta Yahudi harus pulang ke alam baka. Mereka dikirim secara ekspres menggunakan camp konsentrasi. Tapi terus terang saya meragukan data tersebut. Secara logika, camp konsentrasi itu hanya mampu menampung sekira 750 orang perhari, sementara pendudukan Nazi Jerman hanya 3 tahun. Kalau dikalkulasi secara matematis dan hanya jika camp tersebut bekerja siang malam tanpa jeda, maka total Yahudi yang dikirim ke alam baka hanyalah 750 ribu orang!!! Lantas yang 5 juta 250 ribu lainnya didapat dari mana???




Oke, saya tak hendak membahas data konyol itu, karena tak ada lawan debat disini, percuma juga akhirnya. Karena para ahli sejarah seolah bungkam kalau sudah menyangkut teori Holocaust. Teori Holocaust merupakan teori (yang menurut saya) adalah teori paling bodoh sepanjang sejarah peradaban manusia. Kalau ada dari tuan sekalian yang memiliki data yang mendukung teori Holocaust tentang korban Yahudi, bolehlah kita bertemu dan beradu logika. Sekali lagi SECARA LOGIKA. Karena saya adalah orang yang berakal sehat, dimana segala sesuatu haruslah berdasarkan bukti dan logika yang kuat, bukan data yang berasal dari ahli nujum!!




Kembali ke Palestina.




Negeri malang tersebut kini haruslah berbagi daerah dengan Israel. Sebuah negara yang sebelum perang dunia kedua sama sekali tidak ada dari peta dunia, kini muncul dengan segala kecanggihan teknologinya. Ya, untuk yang terakhir itu tentu saja didapat dari patron dekat mereka, Amerika. Mereka tidak hanya menjajah dan merampas hak-hak rakyat Palestina, tetapi juga membunuh anak-anak dan para wanita. Sungguh diluar batas kemanusiaan. Apa yang dilakukan dunia melihat semua itu? Hanya Diam, tuan. Ya, hanya diam seribu bahasa.




Sejenak kita keluar kotak, kita lihat kasus yang skala kekejamannya jauh dibawah Israel. Kita ambil contoh tragedi menara kembar di World Trade Center, yang konon menelan korban jiwa sebanyak 3000 jiwa. Apa yang dilakukan dunia? Semua mengutuk, mengecam bahkan menjadikan Islam sebagai setan yang harus dilawan dengan rapalan mantra. Mantra yang bernama terorisme. Label itu melekat erat disetiap jidat muslim di seluruh dunia, untuk sebuah tragedi yang kebenarannya masih tanda tanya. Logika saya kembali berbicara: apakah mungkin, sebuah negara adidaya, dengan segala kecanggihan tekhnologinya, mampu diobrak abrik oleh segelintir orang bersenjatakan pisau?? Tak jelas apakah yang melakukannya adalah seorang manusia biasa atau manusia setengah dewa hingga mampu meledakkan gedung pentagon yang super canggih itu. Logika sehatku berkata: ini adalah lelucon yang sama sekali tak lucu.




Kita kembali ke Palestina.




Ada berapa juta rakyat Palestina yang telah dibantai Yahudi Israel selama masa pendudukan hingga saat ini? 10, 100, 1000 atau 3000 kah? Total data yang saya punya adalah sebanyak 17 juta rakyat Palestina meninggal dunia akibat kebiadaban Israel. Dari jumlah itu sebanyak 30% adalah pemuda, 40 % wanita dan sisanya adalah ANAK-ANAK!! Adakah tindakan dari dunia untuk menghentikan kebiadaban ini?? Tidak ada sama sekali. Semua bungkam, Tuan!!




Sekarang kita berlogika yang lebih cerdas.




Kalau pendirian negara Israel adalah akibat Holocaust yang dilakukan oleh Nazi Jerman, kenapa harus rakyat Palestina yang menanggungnya??? Kenapa tidak mendirikan negara baru di Jerman saja sebagai pelaku Holocaust??? Dari pandangan hukum negara manapu di dunia ini, pelaku kejahatanlah yang harus menanggung sanksi. Apa salah rakyat Palestina hingga mereka harus menanggung dosa Jerman dan Hittler??? Logika macam apa ini???



Sekali lagi saya katakan, rupanya dunia sudah tidak memiliki pemimpin yang cerdas dan berani untuk berlogika semacam itu.




Yang menjadi persoalan kritis adalah, Palestina terpecah kedalam 2 faksi: Hamas dan Fatah. Mereka tak bersatu.




Hamas dengan teguh meyakini bahwa Israel tidak ada dan tidak boleh ada di Palestina. Mereka berjuang dengan keras tanpa henti menolak ketidak adilan ini. Sedangkan Fatah adalah faksi moderat. Menyetujui dan mengakui Israel. Seraya mengemis pada Amerika untuk diberi kemerdekaan dengan format “two state solutions”.




Entah mana yang terbaik bagi rakyat Palestina, namun Fakta mengatakan bahwa rakyat Palestina menolak adanya negara Israel. Hal itu terbukti dari pemilu yang dilakukan beberapa tahun lalu, dan dimenangkan oleh Hamas. Sayang, kemenangan suara rakyat itu ditolak oleh Amerika. Dengan dalih bahwa Hamas adalah teroris, maka suara rakyat Palestina dinegasikan. Fatah yang selama ini pro-Amerika/Israel tetap memegang kendali pemerintahan.




Sekarang izinkan saya berpendapat dan menyampaikan pandangan saya, Tuan.




Dalam pandangan saya pribadi, saya lebih condong sepakat dengan perjuangan Hamas. Seketika ini saya teringat perkataan Lenin dihadapan masyarakat Bolshevik sesaat sebelum meletus revolusi yang menjatuhkan Tsar yang tamak dan bengis dari singgasananya, yaitu: “tak ada kedamaian yang bisa didapat tanpa mempermaklumkan kekerasan”.




Saya pikir sudah cukup kebengisan Israel ditanah Palestina. Sudah saatnya Fatah dibubarkan dan melebur bersama Hamas mengangkat senjata. Tidak perlu ada belas kasihan terhadap Yahudi Israel. Percayalah bahwa di halal kan membunuh mereka. Tidak perlu takut dosa. Itu urusan belakangan. Yang penting adalah melakukan kekerasan sekeras mungkin pada Israel, sebisa mungkin membalas kekejaman mereka dengan kekejaman yang lebih dahsyat untuk menunjukkan bahwa tanah Palestina adalah hak rakyat Palestina. Berapa nyawa yang dibutuhkan untuk itu?? Sebelumnya saya memohon maaf bila data yang saya sajikan ini kurang berkenan dihati tuan sekalian, namun ini adalah data faktual dari sebuah perjuangan. Stalin pernah menghabisi 20 juta rakyat Sovyet untuk menegakkan Komunisme di Rusia, Mao Tze Tung membunuh 30 juta rakyat China dalam revolusinya, Pol Pot menebas 2,5 juta jiwa dalam satu ladang untuk memerahkan Vietnam. Semua dilakukan (saya yakin) tanpa rasa takut dosa, apalagi neraka. Sekali lagi itu urusan belakangan. Tepikan rasa belas kasih dalam perjuangan klas semacam ini. Saya pikir 15 juta rakyat Israel dibantai secara masiv pun bukanlah angka yang mengejutkan bagi saya. Itu normal dalam sebuah upaya perjuangan Klas. Sangat normal. Mengingat mereka adalah penjajah. Coba tanyakan Bung Tomo, juang kemerdekaan kita, apakah beliau-beliau itu takut dosa saat menembaki ribuan tentara Belanda hingga mati dan mengusirnya dari Indonesia?? Seandainya beliau-beliau masih hidup pasti akan berkata: “itu urusan belakangan, yang penting merdeka dulu”




Sekali lagi saya katakan dan tekankan, bahwa kedamaian hanya ada di ujung bayonet ( Kim Jong Il). Tegakkan pemerintahan yang bersifat Diktator Proletariat untuk mencapai tujuan besar, yaitu kemerdekaan bangsa Palestina. Singkirkan semua pengecut yang ada. Tak berguna mereka hidup. Hanya jadi pengemis kemerdekaan. Pergunakan pemuda-pemudi Palestina untuk berjuang atas hak mereka. Alam ini hanya disediakan untuk mereka yang tangguh, kuat dan tidak cengeng!! Hanya yang terkuat yang akan bertahan.




Sekiranya memungkinkan bagi saya untuk berbicara secara langsung pada rakyat Palestina, maka saya akan berkata: “ ini tanah moyang kalian, bukan moyang eropa. Menangis adalah perjuangan terlemah untuk mereka yang penakut dan saya tahu itu bukan sifat kalian. Kalian adalah pejuang yang tangguh. Bersikaplah layaknya Salahuddin Al Ayyubi. Seorang ksatria Islam yang telah memperjuangkan tanah ini untuk kalian. Angkat senjatamu. Habisi setiap Yahudi Israel yang kalian temui. Jangan dengarkan rintihan permintaan ampun mereka. Ingat!! Mereka tak pernah berbelas kasihan pada kalian, mengapa kalian harus mengasihi mereka?? Sudah cukup kata kasihan membelenggu kalian. Saatnya senjata berbicara, buktikan bahwa bayonet juga punya mulut yang bisa bicara dan tunjukkan pada dunia, Klas bangsa kalian yang sesungguhnya...”




Untuk yang terakhir dalam catatan saya. Izinkan saya sampaikan pada tuan sekalian, bahwa saya tidak sekali-kali menyukai kekerasan dalam penyelesaian persoalan. Namun khusus untuk Palestina ini, saya benar-benar geram dan habis logika. Israel telah membantai rakyat tak berdosa Palestina, membakar ladang-ladang mereka, memperkosa wanita-wanita mereka, membunuh anak-anak mereka selama kurang lebih 60 tahun terakhir ini........ 60 tahun, Tuan!!!......... Itu bukan waktu yang singkat. Bayangkan bila tuan berada dalam posisi mereka. Sanggupkah tuan menanggungnya?? Menyaksikan istri tuan diperkosa didepan mata, menyaksikan anak-anak tuan yang senantiasa tuan kasihi ditembak dihadapan tuan??




Saya mungkin hanyalah seriak kecil ditengah buih samudera. Tak ada arti. Namun catatan ini melukiskan betapa marahnya saya terhadap ketidak adilan dunia dan kekerdilan berpikir pemimpin dunia Islam. Maka izinkan saya bertanya, jikalau negara muslim dengan syariat Islam bersatu dan memungkinkan untuk menggulingkan Israel, mengapa tak segera dilakukan??. Jangan hanya berunding dimeja makan, tapi tak menghasilkan apapun kecuali kata Prihatin. Akan tetapi jika negara-negara Islam dengan syariatnya tak mampu tegak membela bangsa Palestina, biarkan rakyat Palestina mengambil teladan dari mereka yang telah berhasil memperjuangkan klas, selayak Lenin, Stalin dan Mao dalam perjuangannya. Atau mencontoh ksatria besar tanah itu yang bernama Sultan Saladin.




Ingatlah tuan, Palestina itu adalah Palestina kita juga. Meski mereka terpisah jarak ribuan kilo dari tempat duduk tuan yang nyaman, mereka adalah kerabat jauh kita juga. Rasalah kepedihan mereka. Sila mengecam tulisan saya ini jikalau merisaukan hati tuan. Tapi tolong jangan hentikan do’a dan dukungan tuan sekalian untuk mereka, Rakyat Palestina. Saudara kita.










Sekian.





Selasa, 19 Juni 2012

Jalan itu (ternyata) panjang dan berliku tajam..

Sudah lama saya tak corat coret diblog, terutama setelah ada kebijakan untuk menutup seluruh akses socmed melalui proxy, riwayat blog saya nyaris tamat..

hehe

Hampir 1,5 bulan saya tak memposting tulisan. Jemari rasanya kaku semua. Pikiran rasanya mandeg. Dulu, sehari saya bisa memposting 3-4 tulisan. Jadi ketika aksesnya tertutup, maka saya pun susah membiasakan diri untuk tak menulis.

Beruntung saya punya akun twitter..

Kebiasaan saya menulis sedikit tersalurkan disana. Saya dapat berkicau mengenai konsep gagasan. Tentang Nasionalisme, Politik, Sains dan Agama..

Nah, yang terakhir saya sebut ini yang hendak saya bahas menjadi pokok pikiran tulisan saya kali ini.

Awalnya saya tak begitu intens menyuarakan agama. Bagi teman-teman yang mem-follow saya sejak awal mungkin tahu bahwa kicauan saya tidaklah sekental saat ini saat membahas tentang Agama. Biasanya saya nge-twit soal keseharian, tips pertanian (maklum saya kan petani), juga aktifitas saya di Organisasi. Tak jauh dari itu.

Tapi beberapa pekan terakhir ini saya merasa tertantang untuk bersuara dan mengangkat tema Islam dalam twit-twit saya. Why?

Saya mulai resah dengan gencarnya gerakan yang bertajuk Jaringan Islam Liberal (JIL). Saya tertarik untuk meng-counter pemikiran JIL ini semenjak Ulil menjawab pertanyaan dari Followernya mengenai Tattoo, dimana dia menjawab bahwa Tattoo diperbolehkan dalam Islam. What?!!

Belum lagi gagasannya yang mendorong kawin beda Agama.. Hmm.. Ini kalau diteruskan, bukan tidak mungkin anak-anak saya kelak yang akan jadi korban.. Naudzubillah summa naudzubillahimindzalik!!

Dari situ saya tergerak untuk kembali membuka-buka kitab tua diperpustakaan saya dan mengabarkan yang benar meski follower saya sedikit.

Terus dan terus saya suarakan hal-hal prinsipil yang hendak dibelokkan oleh orang-orang JIL macam Ulil, Assyaukanie ataupun Guntur Romlie.

Pendek kata, dia ngetwit apa yang bertentangan dengan Islam, saat itu juga saya pulang dan menyuruh pembantu saya mencarikan buku di perpustakaan saya. Saat itu juga saya twitkan bantahan yang berasal dari Hadis dan Qur'an.

Terus terang, tujuan saya awalnya adalah semampu diri untuk menanggulangi gerakan JIL ini dengan cara bersuara melalui Twitter, meski (sekali lagi) follower saya sangat kecil. Tapi tak jadi soal, yang penting saya berusaha, soal hasil urusan Allah..

Tibalah saya menemukan hashtag (#) IndonesiaTanpaJIL.

Oke... Saya awalnya tak hiraukan, karena saya pikir ini hanya euforia singkat untuk mengimbangi hashtag IndonesiaTanpaFPI. Ya cuma lelucon di Twitland belaka..

I was wrong.. Ternyata Indonesia Tanpa JIL ini gerakan yang sangat solid. Banyak twit saya yang di Re-twit oleh teman-teman di Indonesia Tanpa JIL ini.

Pernah suatu ketika saya berdebat dengan Ulil mengenai nikah beda Agama. Saya pertanyakan landasan Ulil mengenai gagasannya mengenai nikah beda agama ini. Ternyata dia tak mampu jawab ketika saya sodorkan Surah Al Baqarah Ayat 221. Muter-muter jawabannya..

Lalu saat Ulil membolehkan menggambar Nabi. Saya twitkan tentang itu juga, tapi tentu saja dengan dalil dari Hadits dan Qur'an yang dengan gamblang mengharamkannya. Jadilah saya diblock oleh beberapa penikmat pemikiran JIL ini.

Masih banyak lagi perdebatan antara saya dengan komplotan JIL ini. Bahkan ada yang menyinggung masalah Muallaf dan sebagainya. Membabi buta. Nyaris tak ada argumentasi yang berkualitas selain bernada merendahkan dan melecehkan.

Saya terima saja, toh saya tak akan turun derajad karena itu. Terpenting niatan awal saya untuk penyelamatan generasi dari paham yang melenceng ini tersampaikan.

Hanya saja, saya kurang sreg bila kemudian beberapa sahabat di twitland yang memanggil saya dengan sebutan 'Ustadz'..

Plakk....

Rasanya saya tertampar keras oleh sebutan itu. Kenapa?





1. Saya belumlah mapan secara Ilmu hingga harus mendapat predikat itu.
2. Saya tak siap untuk bertanggung jawab dihadapan Allah kelak atas predikat itu. Tentu kalau ada  kesalahan ucapan dari saya lalu diikuti, maka sayalah yang menanggung dosa orang itu. Berat.. Saya tak siap dan tak akan pernah siap.
3. Usia saya baru 28 tahun... Kalau mendapat sebutan itu rasanya ada jarak dengan teman-teman sebaya dalam pergaulan. Kesannya antara guru dan murid. Saya tak mau ada jarak, karena pada hakekatnya saya juga belajar dari teman-teman.

Untuk itu setiap ada yang mention menggunakan sebutan itu, pasti saya tegur. Logikanya mudah kok.. Menurut saya, suatu gagasan itu akan lebih mudah diserap bila disampaikan dan diselipkan saat bercanda tawa dan bergurau daripada saklek seperti dikelas..hehe




Juga saya pun dapat belajar balik dari tanggapan-tanggapan. Tak ada rasa ewuh mekewuh (apa sih bahasa Indonesianya? Hehehe). Jadi enak, gayeng..




Nah, coba bayangkan bila suatu gagasan disampaikan 'top down' dengan sebutan Ustadz tadi. Seperti antara seorang Murid dengan Mursyid-nya... Waduuhh... Iya kalau yang saya sampaikan benar semua, lah Ilmu agama saya masih seujung kuku bayi (lebih kecil lagi malah), kalau salah kan gawaaattt....




Hehehe....




Hikmah yang dapat saya petik dari upaya saya beberapa pekan terakhir ini adalah mencoba meresapi dan merasakan apa yang terjadi terhadap perjuangan para pendahulu kita yang men-syiar-kan Islam. Betapa berat medan yang harus mereka lalui. Melewati cacian, ancaman pembunuhan, rasa lapar dan keterasingan. Tapi mereka tetap Istiqomah untuk menyampaikan sinar terang ditengah kegelapan.




Masya Allah....




Sungguh apa yang saya alami ini jauh lebih ringan dari para Guru itu. Kalau saya dapat sampaikan dengan mudah karena cukup lewat twit sambil duduk manis dan minum teh, tapi Beliau-Beliau itu berjalan kaki untuk menemui murid-muridnya. Bahkan sembunyi-sembunyi untuk mengajarkan Islam, hingga akhirnya besar seperti sekarang ini. Belum lagi taktik yang harus digunakan untuk mereduksi tradisi masyarakat saat itu agar tak jatuh ke lubang kemusyrikan. Sungguh sulit saya membayangkan betapa berat langkah kaki para Mursyid itu.

Juga resistensi yang harus didapat karena menyuarakan sesuatu yang sama sekali baru ditengah masyarakat. Saya mungkin hanya menghadapi orang-orang yang tak mampu berlogika secara sehat, merusak. Tapi para Mursyid itu menghadapi pedang dan belati dari orang-orang yang tak mampu berlogika, lagi kalap.




Ya Allah...




Mudah-mudahan saya dapat meneladani sikap mereka.. Istiqomah untuk berjuang di Jalan Allah, meski pergulatan dalam perjalanan itu cukup berat. Menempa bathin. Membutuhkan kesabaran.




Semoga saya bisa.. Bismillah

Jumat, 04 Mei 2012

eng...ing..eeenngg...

eng ing eeengg...

kalimat itu acap kali disebutkan oleh akun anonim yang saat ini sedang ramai dibicarakan orang yaitu @triomacan2000. dia selalu mengatakan itu setiap kali akan mentwitkan sebuah kasus korupsi. ya akun itu sangat getol membeberkan sejumlah kasus-kasus korupsi di negeri ini.

hmmm..

hampir sebulan lamanya saya tidak menulis di blog ini. awalnya saya menduga blogku dihack orang. tapi setelah melakukan 'investigasi' ternyata blogspot diblokir oleh server dikantor. ya walaupun tak semahir Roy Suryo dalam telematika, tapi kalau sekedar utak utik dikit, bisa laah.. hehe

untuk tema kali ini sengaja akan saya tuliskan sebuah pandangan umum saja tentang moralitas dan cara pandang orang terhadap orang lain dalam sebuah komunitas sosial.

dulu, orang tua saya selalu mewanti-wanti agar saya tidak 'adigang adigung adiguna' terhadap orang lain. apa itu adigang adigung adiguna..? penjelasan singkatnya sih sikap mental yang suka semena-mena terhadap orang lain.. orang tua saya selalu mengingatkan, bahwa tidak ada yang tahu nasib seseorang dikemudian hari.

contoh kecil bahwa ucapan orang tua saya itu benar.

tetangga saya ada yang (kebetulan) anaknya menjadi pegawai di dirjen pajak. yang namanya pegawai pajak, gaya hidup glamour plus segala kemewahan ia miliki. tentu saja ini membuat iri beberapa tetangga yang lain.

hanya saja, ia tak sadar bahwa Tuhan sedang mengujinya (tepatnya sang anak) dengan kemewahan dan harta yang berlimpah. ia bersikap semena-mena terhadap orang lain. angkuh dan sombong sekali. hampir tiap bulan ia beli mobil hyper mewah. padahal didepan rumahnya tepat, adalah rumah tukang becak yang hidupnya serba kekurangan.

setiap kali lewat didepan kerumunan orang dia tak pernah menyapa, bahkan kadang meludah seenaknya.

suatu ketika pernah dia berkata dengan nada mengejek pada seorang pemuda pengangguran..

"masih nganggur mas? kamu kan seusia anak saya? anak saya saja sudah gonta ganti mobil kok kamu kerja saja belum?" katanya

astaghfirullah..

memang sih, pemuda itu dari dulu ugal-ugalan dan tak pernah sekolah. tapi itu bukan sebuah alasan untuk siapapun merendahkannya. dia juga manusia yang punya hati. dan hati bisa sakit bila dizhalimi. dan doa orang yang dizhalimi itu sangat didengar oleh Tuhan.

benar saja..

2 minggu yang lalu tersiar kabar di Radar Bromo (Jawa Pos Grup) yang memberitakan bahwa anak tetangga saya yang semena-mena itu dikeler pihak kejaksaan karena tersangkut masalah korupsi pajak puluhan milyar. ia terseret setelah namanya disebut ikut berperan dalam korupsi pajak yang dilakukan oleh Dhana Widyatmika..

apa yang terjadi kemudian?

sampai sekarang sama sekali tak pernah terlihat muncul. jangankan terlihat batang hidungnya, air ludah yang ia biasa keluarkan didekat kerumunan orang telah bersih ia jilat kembali. sampai aspalnya kinclong..hehehe

nah..

itulah teman..

saya hanya mengingatkan, jangan adigang adigung adiguna terhadap orang lain sebab tak seorang pun yang tahu masa depan. bersikaplah yang wajar terhadap siapapun. terlepas keburukan yang telah orang lain lakukan, itu adalah wilayah Tuhan untuk menghukum, bukan kita manusia.

saat satu jarimu menunjuk orang lain dengan dengki, maka ingatlah bahwa keempat jarimu yang lain mengarah padamu.

jangan sampai karena kesombongan dan keangkuhanmu yang tanpa sadar ataupun secara sadar telah mendzalimi orang, lalu orang tersebut berdoa pada Tuhan agar kamu tersungkur. saat Tuhan mengabulkan, maka namamu akan disebut oleh akun @triomacan2000 dengan #kode khasnya:

"eng ing eeeennnggg..."

tamatlah riwayatmu...


hehehehe...

sekian.

Rabu, 11 April 2012

~ AUTOPILOT ~

dulu, sewaktu saya masih kecil, saya selalu bercita-cita menjadi seorang penerbang alias pilot. bertugas dengan seragam yang mentereng. topi dengan lambang sayap disampingnya. gagah sekali rasanya. pada masa itu saya selalu membayangkan menjadi seorang pilot pesawat tempur seperti di film kartun G.I Joe. 

hehehe...

namanya juga anak-anak. tapi beneran lho, semangat itu memacu saya untuk belajar dengan keras. sejak kelas 1 SD, saya tak pernah lepas dari 5 besar peringkat dalam kelas. bayangan mengenakan seragam pilot tempur itu terus saja hidup dan memacu semangat saya. sampai akhirnya saya masuk ke SMPN 5, sekolah favorit di Kota saya yang saat ini telah menjadi RSBI. namun impian itu langsung lenyap saat saya mengalami kecelakaan dan patah tulang. 

entah kenapa, hingga saat ini saya selalu senang mendengar istilah-istilah yang berkaitan dengan penerbangan. ambillah contoh turbulensi. saat saya naik motor lalu kemudian merasa mual-mual karena diterpa angin, akan lebih nyaman saya gunakan istilah akibat turbulensi daripada masuk angin.. hahaha.. rasanya lain saat kita menggunakan istilah di penerbangan dalam setiap percakapan. 

keren aja..

saat saya pertama kali naik pesawat pun seperti haus akan bahasa dalam penerbangan. seperti menggunakan istilah flight attendant untuk mengganti kata pelayan. atau menggunakan istilah delay untuk mengganti kata menunggu keberangkatan. meskipun saat itu sedang naik bis, tapi kalau harus menunggu lama di terminal, ya saya pakai istilah delay.

hahahaha....

nah, dalam dunia penerbangan dikenal sebuah istilah autopilot

secara terminologi, autopilot dapat diartikan sebagai satu peralatan di pesawat terbang yang dapat membantu Pilot dalam menerbangkan pesawat. autopilot ini biasanya bekerja dengan tenaga mekanik atau elektrik atau hidraulik atau kombinasi dari ketiganya yang berfungsi untuk menerbangkan pesawat tanpa dikemudikan oleh sang Pilot. singkat kata, pesawat akan berjalan sesuai dengan Flight Plan yang sudah ditentukan sebelumnya.  auto pilot dalam sistem penerbangan memiliki nama asli Automatic Flight Control System (AFCS). Perangkat AFCS adalah bagian dari avionic pesawat terbang, merupakan system elektronik yang digunakan untuk mengontrol sistem kunci dari pesawat dan penerbangan.

dalam perkembangannya, autopilot telah dapat mengendalikan sebuah pesawat dari take off hingga landing. namanya Instrument Landing System (ILS). 

istilah-istilah dalam dunia penerbangan ini benar-benar menghipnotis saya. rasanya lain. tampak megah ketika kita menggunakan istilah-istilah itu.

by the way...

bilamana dalam pesawat telah dikenal adanya Autopilot, apakah hal itu dapat ditarik dalam sebuah kerangka yang lebih besar, seperti negara, badan, organisasi, lembaga dan sebagainya?

jika saya lihat fungsi autopilot itu sendiri berikut terminologi yang melatarinya, hal itu mungkin saja dan sangat bisa di aplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari.

begini..

jika dalam dunia penerbangan, istilah autopilot ini berarti menerbangkan pesawat meski tanpa pilot dibalik kemudinya, maka hal tersebut dapat pula kita temui dalam dunia kerja ataupun organisasi, badan, lembaga bahkan negar`.

banyak sekali terjadi dimana sebuah organisasi atau lembaga yang tetap dapat berjalan meski yang memangku jabatan sebagai kepala atau ketuanya tak pernah melakukan apa-apa. semua tetap berjalan. layaknya organisasi normal. dari luar semua tampak "baik-baik saja". 

tapi tetap ada perbedaannya dengan dunia penerbangan.

jika di dunia penerbangan sistem autopilot ini telah berkembang hingga dapat melakukan landing dengan selamat, maka dalam dunia organisasi hal itu merupakan petaka. 

howcome?

dalam pesawat, panel dan instrumen yang terdapat didalamnya bersifat statis. semuanya berjalan dan dibangun berdasarkan komputer. tak punya emosi, tak punya hati, tak punya ambisi. sehingga segalanya dapat dikontrol dengan baik, sekalipun pilotnya tidur. hantaman cuaca ataupun hambatan turbulensi dapat diatasi dengan terukur karena segala kemungkinan telah terdeteksi sejak awal. pun demikian jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan seperti gangguan cuaca, maka panel-panel tersebut akan bertindak sesuai dengan pilihan program yang telah tertanam didalam sistem.

lain halnya dengan organisasi atau lembaga yang "autopilot". karena perangkat yang terdapat didalamnya secara penuh digerakkan oleh manusia yang secara alamiah telah "ditanam" rasa, cipta dan karsa oleh Tuhan dalam benaknya, maka sebuah organisasi atau lembaga 'autopilot' ini sangat rentan dengan perpecahan, stagnasi dan keruntuhan. manusia yang menjadi perangkat dalam organisasi tidaklah statis seperti panel komputer dalam pesawat, mereka terus tumbuh dan bergerak secara dinamis. 

organisasi atau lembaga itu juga memiliki permasalahan yang dihadapi. 

berbeda dengan autopilot dalam pesawat yang dapat mengkalkulasi hambatan serta mengambil "keputusan" sesuai dengan pilihan tindakan yang telah tertanam didalam chip komputer yang menggerakkan sistem, maka persoalan di dalam organisasi atau lembaga tak dapat diselesaikan secara autopilot. permasalahan yang dihadapi organisasi atau lembaga ini sifatnya sangat dinamis, tak dapat dikalkulasi secara matematis, karena sangat berkaitan dengan 3 hal yang telah ditanam Tuhan yakni Rasa, Cipta dan Karsa. jika "autopilot" tersebut dipaksakan atau terpaksa terjadi didalam sebuah organisasi atau lembaga yang dikarenakan lemahnya kepemimpinan didalamnya, maka kehancuran tak dapat lagi dielakkan. kata orang Jawa, organisasi atau lembaga dan atau sejenisnya, yang bergerak secara otomatis seperti ini disebut "ngglundung dewe" (berjalan sendiri). tanpa adanya kepemimpinan yang tegas, berwibawa dan cerdas, maka ketika terdapat halangan dan rintangan, akan terjadi kebingungan didalam perangkat organisasi atau lembaga dan atau sejenisnya itu, karena tidak adanya sikap yang jelas dari para pemangku kebijakan. organisasi atau lembaga akan berjalan secara lamban, tak bergairah, lesu atau bahkan justru bergerak secara liar, melabrak sana sini, tak punya tujuan pasti.

pertanyaannya adalah bagaimana jika hal itu terjadi secara kontinyu?

dari gambaran yang sudah saya uraikan tadi, maka secara pasti (cepat atau lambat) hal itu akan membawa organisasi atau lembaga dan atau sejenisnya, pada sebuah kehancuran. paling tidak tujuan besar yang menjadi visi organisasi atau lembaga dan atau sejenisnya, akan terbengkalai, rusak dan tak tercapai.

lalu bagaimana cara memperbaiki keadaan bila terlanjur seperti ini?

setiap organisasi atau lembaga dan atau sejenisnya, tentu memiliki seperangkat aturan untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi problematika kepemimpinan seperti ini. musyawarah dengan seluruh anggotanya, kalau masih tetap sama beri mosi tidak percaya, jika masih tetap bandel dengan skema autopilot, ya lengserkan saja. bagaimanapun, visi adalah yang utama. orang bisa diganthkan tapi visi harus tetap berjalan.

lantas bagaimana bila hal tersebut terjadi pada negara?

hahahaha.... negara autopilot...

bagi saya pribadi, visi negara ini jauh lebih penting daripada soal siapa yang jadi pemimpin. untuk mekanisme pemecahan masalah sudah saya sampaikan diatas, tinggal tarik saja ke dalam scope yang lebih luas. selesai. kalau itu terjadi pada lembaga atau badan yang sifatnya delegatif a.k.a perangkat daerah, ya tinggal melihat "will" kepala daerahnya saja.

oke, sobat... itu tadi ulasan saya mengenai autopilot berikut segala penjelasannya. semoga bermanfaat dan dapat berguna untuk menganalisa, apakah orang-orang yang berteriak tentang isu negara autopilot itu adalah fitnah atau memang benar adanya. apakah istilah itu sebentuk provokasi semata atau memang gambaran nyata. sampean saya yakin adalah orang yang cukup pintar untuk menganalisanya. kalau tidak, apa gunanya reformasi yang memberikan kebebasan untuk berani berpikir secara cerdas dan merdeka.. hehehe... 

selamat siang.

sekian.



Selasa, 03 April 2012

~ dari hati untuk logika ~

selamat sore, sahabat-sahabat pena yang budiman..

di sore yang hangat ini izinkan saya untuk mengulas perihal rapat paripurna DPR beberapa saat yang lalu, dimana gaungnya masih terasa sampai detik ini. tak hanya itu, reaksi-reaksi pun justru makin deras bermunculan pasca paripurna yang menetapkan APBN-P 2012 itu.

riak-riak kecil hingga gelombang penolakan bermunculan bak cendawan di musim hujan.

friksi-friksi itu bermunculan dengan muara penolakan terhadap disahkannya  penambahan ayat 6A dalam Pasal 7 UU No. 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012.

kita lihat bedah dan ulas ini dengan jernih, kontrol emosi yang baik dan tentunya bebas kepentingan.

pertama: 

beberapa pihak penentang kebijakan kenaikan harga BBM sekaligus menganggap bahwa keputusan penambahan ayat 6A dalam pasal 7 pada UU No. 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012 cacat hukum. benarkah demikian?

saya akan sajikan sebuah argumentasi hukum mengenai hal itu. 

dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3)  Pasal 161 ayat (4) menyebutkan, pembahasan dan penetapan RUU tentang perubahan APBN dilakukan oleh pemerintah bersama dengan Badan Anggaran dan komisi terkait dalam waktu paling lama 1 bulan.

dalam pelaksanaan Sidang Paripurna memang sempat molor hingga sabtu dini hari. sementara dalam pasal tersebut tertulis paling lama 1 bulan sejak di serahkannya RUU APBN yang mana telah diserahkan oleh Pemerintah pada tanggal 29 Februari, artinya jika melebihi pukul 00.00, maka RUU APBN-P 2012 tidak bisa dibahas dan harus kembali pada Undang-undang yang lama. mengingat gentingnya waktu pelaksanaan serta krusialnya pasal yang dibahas, maka Paripurna memutuskan waktu pembahasan diperpanjang hingga pukul 01.00 dini hari.

dari sini dapat kita petik bersama bahwa berdasarkan mufakat, telah dicapai keputusan untuk memperpanjang masa pembahasan. pun demikian, penetapan APBN-P 2012 pada 31 Maret 2012 sekitar pukul 1.00 WIB tersebut tetap sah secara formil, karena masih dalam rentang waktu yang dibolehkan dalam UU MD3 pasal 161 ayat (4). waktu 1 bulan yang dimaksudkan di dalam UU MD3 itu adalah waktu pembahasan dan penetapan oleh Badan Anggaran, yang berarti dihitung sejak Banggar mendapatkan penugasan, yaitu tanggal 6 Maret 2012, bukan dihitung dari tanggal penyerahan surat dari presiden ke DPR, yaitu 29 Februari 2012.

yang kedua.

ahli Tata Hukum Negara, Yusril Ihza Mahendra mengajukan judicial review atas UU APBN-P khususnya pasal 7 ayat 6a, karena dianggap cacat secara materiil karena menyerahkan harga minyak pada mekanisme pasar. menurut saya,  Pasal 7 ayat 6a tidak bertentangan dengan Pasal 28D dan Pasal 33 UUD 1945 dan substansi ayat 6a itu sama dengan UU Migas sebelum dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK). bunyi Pasal 28 ayat (2) UU Migas adalah "Harga BBM dan harga Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar". 

saya bukan ahli hukum tata negara, hanya berpendapat berdasarkan logika. berikut pandangan saya.

Pasal 7 ayat 6a menetapkan kewenangan pemerintah dalam penyesuaian harga BBM atas dasar ICP (Indonesian Crude Price). selengkapnya pasal tersebut berbunyi: " dalam hal harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude oil Price/ICP) dalam kurun waktu berjalan mengalami kenaikan atau penurunan lebih dari … % (… persen) dari ICP yang diasumsikan dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012, Pemerintah dapat melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya."

"berdasarkan Indonesian Crude Price..." bunyi salah satu redaksi dalam pasal itu. artinya, adalah penetapan harga BBM sama sekali bukan diserahkan pada mekanisme pasar, melainkan pada Indonesian Crude Price (ICP). 

dari situ kita dapat menilai bahwa harga BBM tidak diserahkan pada mekanisme pasar. jika kenaikan harga BBM diserahkan pada mekanisme pasar, tentulah tidak lagi ada pos subsidi sebesar Rp137,4 Trilliun pada UU APBN-P 2012. lantas mana unsur dalam  pasal 7 ayat 6a yang dengan tegas menyatakan bahwa keputusan paripurna tentang pasal tersebut bertentangan dengan pembatalan pasal 28 ayat (2) UU 22/2001 tentang Migas??

dengan dibatalkannya pasal  28 ayat (2) UU 22/2001 tentang Migas oleh MK, kewenangan pemerintah untuk menentukan harga BBM bersifat atributif, artinya merupakan hak asli yang diturunkan dari Pasal 33 UUD 1945. akan tetapi, hak asli ini didelegatifkan (diberikan kewenangan berdasarkan UU APBN-P Pasal 7 ayat 6a) hanya jika kondisinya tertentu.

demikianlah ulasan saya mengenai kegaduhan yang terjadi pasca Rapat Paripurna DPR tentang kenaikan harga BBM. sekali lagi saya bukan ahli hukum tata negara, hanya menilai dari kacamata rakyat biasa yang belajar untuk berlogika atas nama fakta. 


sekian.


Minggu, 01 April 2012

Mau Dibawa Kemana......?

"He who learns but does not think, is lost! He who thinks but does not learn is in great danger - Confucius"

kata 'instan', dulunya sangat melekat pada makanan yang berasal dari negeri matahari terbit itu. adalah Mamofoku Ando, orang Jepang kelahiran Chiayi yang menemukannya untuk pertama kali. makanan ini pertama kali masuk ke Indonesia pada medio 60-an dengan Supermie sebagai pemain tunggal. kini sudah ada ratusan merk yang beredar didalam masyarakat. Indonesia pun menjadi negara yang memproduksi mie instan terbesar dunia setelah China dengan jumlah produksi sebanyak 12,4 milyar bungkus pertahun. 

tapi tulisan saya kali ini tak hendak membahas mengenai mie instan, sama sekali tidak. secuil sejarah mengenai mie instan diatas hanyalah sebagai 'pembuka tutup botol' saja. hahahaha...

oke

seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya aktif menulis sejak masih SMP. saya pun gemar membuat puisi dan cerpen. imajinasi saya menjalar dengan bebas, tumbuh dan berbuah lebat di otak saya, nyaris tanpa batas. dan peralaman pergulatan hidup di dunia pemikiran ini saya coba tularkan pada anak-anak saya. namun saya harus lebih pintar lagi mencari cara sebab anak saya telah terpenjara oleh aturan hyper ketat dalam sekolah. ujian ini itu. tes ini itu dsb. yang saya pandang makin membelenggu kreatifitas anak saya. hal ini sudah saya ulas pada tulisan saya sebelumnya yg berjudul Filsafat Ilmu.

kali ini ulasan saya mengenai carut marut dunia pendidikan.

beberapa waktu yang lalu saya rapat dengan utusan dari The World Bank (Bank Dunia). kami berdiskusi mengenai banyak hal dalam dunia pendidikan. mulai dari dana BOS hingga rencana pelaksanaan BOSDA. mulai dari SPM bidang pendidikan hingga UU yang mengatur sistem pendidikan.

adalah Bapak Drs. Erimson Siregar, M.Pd dari Universitas Lampung sebagai teman diskusi saya saat coffee break. beliau adalah sosok yang bersahabat dan memiliki wawasan dalam menyampaikan materi. namun ada beberapa persoalan yang membuat kami berbeda pandangan, walau sejatinya kami pada satu tujuan. kami berdebat semenjak masih didalam forum dan berlanjut saat coffee break. dan diskusi kami berakhir pada sebuah arahan dari beliau agar menuangkan pendapat dan pikiran saya pada sebuah tulisan. dan inilah tulisan yang saya dapat hadirkan sebagai ringkasan dari diskusi kami saat itu.

saat ini jutaan orang tua sedang ketar ketir menghadapi Ujian Nasional yang kian dekat. mereka berharap anaknya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. yang SD ke SMP, SMP ke SMA dan seterusnya. jadilah mereka mengikutkan putra putri tercinta pada bimbingan belajar yang menjamur di negeri ini.

tak berhenti sampai disitu, orang tua masih dipusingkan dengan pilihan tempat menimba ilmu.

seperti kita ketahui bersama, sejak diterbitkannya UU No 20/2003 terutama pasal 50 ayat 3, tentang Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), saat ini terdapat banyak sekali RSBI dan SBI di Negara ini. menurut argumentasi dari Mendikbud M. Nuh, Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) merupakan wadah atau layanan khusus bagi anak-anak pintar (Kompas, 30/12/2011).

saya skeptis dengan ini.

sekarang kita ulas secara mendalam hal ini, ditinjau dari Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang pendidikan. dalam SPM poin kesatu dituliskan bahwaa:

 "Tersedia satuan pendidikan dalam jarak yang terjangkau dengan berjalan kaki yaitu maksimal 3 km untuk SD/MI dan 6 km untuk SMP/MTs dari kelompok permukiman permanen di daerah terpencil"

secara redaksional, poin tersebut menerangkan bahwa di satu daerah harus terdapat (minimal) satu satuan pendidikan yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki. itu artinya dalam range 6 km persegi, sebuah sekolah harus dapat di akses atau melayani masyarakat dibidang pendidikan.

saya jadi berpikir, apakah benar dengan berlakunya RSBI ini maka masyarakat dalam range 6 km itu dapat mengakses pada sekolah tersebut?

oke, dalam SPM tersebut terdapat poin yang mengatakan "....di daerah terpencil." saya yakin poin tersebut akan dijadikan tameng dalam berargumentasi. namun poin tersebut sangat lemah bila melihat isi redaksi secara keseluruhan.

logikanya begini, kata tersedia pada bagian pertama point tersebut, secara terminologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti (sudah) disediakan; sudah ada; disediakan untuk.. 


artinya, sekolah disediakan untuk kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat. betul?

nah jika melihat realita yang ada, apakah RSBI/SBI dapat menjadi wadah belajar bagi SELURUH rakyat (minimal) yang berada pada range 6 km persegi?

logika simpelnya seperti ini: disuatu daerah wajib didirikan sebuah Toilet umum untuk masyarakat. tapi ketika sudah berdiri, Toilet tersebut justru tidak dapat diakses oleh masyarakat luas karena hanya masyarakat tertdntu (yang sesuai kriteria) yang boleh memanfaatkan Toilet tersebut. kalau seperti ini, maka masyarakat yang ada di range 6 km persegi (seperti yang telah diatur) bisa jadi tidak dapat memanfaatkan Toilet itu, mungkin malah masyarakat dari luar daerah tersebut yang dapat dengan leluasa mengakses Toilet itu.

menurut saya ini sangat aneh dan lucu.

lalu kemudian pernyataan Mendiknas di harian Kompas yang saya tulis diatas, menurut saya sangat rancu dan berpotensi menimbulkan multitafsir. Mendiknas mencampuradukkan antara RSBI/sekolah berstandar internasional (SBI) yang diatur dalam Pasal 50 Ayat (3) UU No 20/2003 dengan pendidikan khusus yang diatur dalam Pasal 32 Ayat (1) UU yang sama.

untuk mengetahui detil mengenai SPM bidang Pendidikan sila klik link ini (SPM) atau ingin mengetahui detil UU No 20/2003 sila download di link ini UU No 20/2003 sehingga didapat gambaran yang jelas atas argumentasi dalam ulasan saya ini.

secara nyata, saya melihat terdapat banyak sekali hal-hal y`ng berlawanan dengan Undang-Undang dalam pendirian RSBI/SBI ini.

kita lihat persyaratan-persyaratan khusus dalam penerimaan peserta didik di RSBI/SBI yang tercantum pada Pasal 16 Ayat (1) Permendiknas Nomor 78 Tahun 2008 berlawanan dengan semangat Pasal 5 Ayat (1) UU No 20/2003 yang berbunyi:

 ”Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Selanjutnya Pasal 11 Ayat (1) menegaskan pula bahwa:

Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.”

jujur saja, dengan adanya RSBI/SBI dalam sistem Pendidikan Nasional (menurut saya) justru kontra-produktif terhadap kemajuan pendidikan anak-anak bangsa, sekaligus merupakan segregasi dalam dunia pendidikan yang harus segera dikaji ulang dan diubah sesuaikan agar selaras dengan UUD 1945. untuk apa dibentuk RSBI/SBI dengan tujuan meningkatkan kualitas, namun tak dapat diakses oleh masyarakat umum? kalau memang bertujuan untuk mengakomodir anak-anak yang ultra pandai, kan sudah diatur pada mekanisme sekolah khusus (Pasal 32 Ayat (1) UU No 23/ 2003), mengapa harus membuat RSBI/SBI?

sebagai rakyat kecil dan lemah saya ingin sekali bertanya, mau dibawa kemana sebenarnya dunia Pendidikan kita ini.....?? apa tidak sebaiknya RSBI/SBI ini dihapus saja dari Sistem Pendidikan Nasional?? dengan men-separasi pendidikan, apakah itu tidak malah akan menjadi semacam kastanisasi?? lalu out-put yang diharapkan seperti apa?? tidak heran jika sekarang menjamur sekolah-sekolah "asal berdiri" untuk menampung anak-anak yang tak dapat mengakses sekolah yang berkualitas. kalau sudah begini, bagaimana generasi emas akan didapat secara kontinyu di Republik ini??

hingga saat saya menerbitkan tulisan ini, pertanyaan-pertanyaan itu masih saja menggantung di langit-langit pikiran saya.

ah sudahlah, mungkin ini hanya firasat buruk rakyat kecil seperti saya saja yang terlalu banyak mengkonsumsi makanan instan....



sekian